PACITAN, bidiktimur.id - Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji mengapresiasi gelaran seni tradisi ronthek gugah sahur yang dari tahun ke tahun dinilai semakin berkembang dan tertata. Perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa kesenian asli Pacitan mampu memberi warna sekaligus menghadirkan hiburan bernuansa budaya selama Ramadan.
Apresiasi itu disampaikan Bupati saat agenda kerja safari Ramadan di Desa Nanggungan, Kecamatan Pacitan. Ia menilai seni ronthek gugah sahur sebagai tradisi turun-temurun yang memiliki nilai budaya kuat dan identitas khas daerah.
“Jika kesenian tradisi ini bisa terus dijaga dan dibuat semakin baik justru akan mengangkat nama Pacitan,” ungkapnya, Selasa (24/02).
Tradisi Turun-Temurun yang Mengangkat Identitas Daerah
Menurutnya, pengelolaan yang baik akan membuat seni ronthek tidak hanya menjadi hiburan musiman, tetapi juga aset budaya yang memperkuat citra Pacitan. Konsistensi dalam menjaga kualitas pertunjukan dinilai penting agar tradisi ini tetap relevan dan diminati generasi muda.
Desa Nanggungan sendiri dikenal memiliki kelompok ronthek berjumlah cukup besar. Keberadaan kelompok tersebut menjadi bagian dari perjalanan dan perkembangan seni ronthek gugah sahur dari masa ke masa, sekaligus memperkaya dinamika seni tradisi di wilayah tersebut.
Ajak Semua Pihak Bersinergi
Bupati juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk peduli dan bersama-sama mengawal agar tradisi ini berjalan dengan baik, tertib, dan berkualitas. Ia menegaskan pentingnya sinergi semua pihak dalam menjaga kelestarian seni ronthek gugah sahur.
“Mari sama-sama kita jaga. Kalau dulu masih ada hal-hal yang kurang baik mari ke depan kita perbaiki sehingga semakin baik,” pungkasnya.//test berita
